Kata-kata Kasar dan Vulgar Diterima oleh Anak Kita dari Lingkungannya, Bagaimana Menyikapinya?

Di salah satu grup WA Rumah Inspirasi, ada pertanyaan demikian. Dan kok saya menjawabnya jadi panjang lebar. Jadi saya simpan saja di blog ini. Siapa tahu menjadi manfaat juga bagi para orangtua yang sedang menghadapi tantangan yang sama.

Semoga bermanfaat 😃👍

=======

Pertanyaan:
Bismillah
Izin bertanya bu lala dan pak aar.
Anak sy 5 th 7 bln.
Kebetulan kami tinggal secara ekonomi di menengah kebawah.
Bahasa daerah.
Anak sy sering banget dpt bahasa aneh2 (kasar/ fulgar) misal maaf alat vital.
Sebaiknya kita larang jangan ucap kata tsb atau kita jelaskan itu apa ya?
Masih 😕

Jawaban:
Selamat pagi, kak Dewi 😃

Berdasarkan pengalaman saya mendampingi tumbuh kembang Oji (10) dan Yanthi (7), yang perlu dibangun di awal adalah bonding dan rasa nyaman anak kepada diri kita sebagai orangtuanya, di antaranya dengan mengalokasikan waktu yang banyak dan berkualitas bisa dengan membacakan cerita, mendengarkan sepenuh hati atas apa2 yang disampaikan, dan sebagainya, sehingga anak selalu menjadikan orangtua tempat mereka mengklarifikasi apa2 yang diterimanya dari lingkungan.

Sebagai contoh, karena Oji salah satu cara belajar bahasa Inggris dan meningkatkan skill menggunakan teknologinya melalui bermain game Minecraft online, tidak jarang Oji menunjukkan kepada saya, "Ayah, ini artinya parah kan?" dan saya melihat kata F**K di layarnya.

Kalau saya yang dulu, mungkin saya akan meninggi emosinya dan mengatakan, "Awas ya Ji! Jangan kamu pakai kata2 itu. Itu kata yang jelek sekali!" dan nada2 mengancam lainnya.

Nah, saya yang sekarang, setelah mendapat buanyak sekali ilmu dari webinar Rumah Inspirasi dan buku2 pengembangan diri yang saya baca, saya memutuskan untuk merespon dengan datar, biasa saja, bahwa mendapat kata yang kita maknai sebagai buruk adalah hal yang lumrah terjadi dan kita bisa memilih untuk menjadikan itu sesuatu yang tidak kita pakai di kemudian hari.

Dengan nada datar, saya menjawab, "Ooh, itu kata yang kurang bagus. Kalau bisa, Oji nggak usah pakai. Tetap jadi pemain yang baik ya walau di game online. Pakai kata2 yang baik saja, jadi pemain yang baik saja."

Dan karena Oji dan Yanthi ikut klub renang, tidak jarang juga kadang saat momen makan bersama mereka menanyakan mengenai kata2 yang kurang baik kepada kami dengan ekspresi yang penuh rasa ingin tahu, yang kalau kita marahi, bisa jadi mereka juga tidak paham mengapa dimarahi.

Dan seperti di atas, saya berusaha merespon dengan datar, menanyakan konteksnya, misalnya, "Mengapa bisa ada kata2 seperti itu? Memang apa yang terjadi?" Dan terjadilah diskusi yang membahas bahwa apa yang dikeluarkan oleh mulut kita merupakan wujud dari apa yang ada di kepala kita. Bisa jadi kata2 tersebut keluar karena anak itu belum punya alternatif kata yang lain, dan sebagainya. Jadi, kalau mau menjadi anak yang baik, yang berucap dan bersikap baik, isi selalu kepalanya dengan hal2 baik. Kurang lebih demikian.

CONVERSATION

0 comments:

Post a Comment

Back
to top